Monday, February 11, 2008

Bung Hatta Tolak Uang Saku


KPK bertekad untuk terus mengusut aliran dana Bank Indonesia (BI) kepada sejumlah anggota DPR periode 1999-2004. Bahkan, jumlah nama penerima dana tersebut, yang sebagian telah diumumkan, diperkirakan akan terus bertambah.

Di tengah-tengah kemiskinan yang melanda masyarakat luas, para wakil rakyat di DPR saat ini memperoleh berbagai fasilitas yang sungguh menggiurkan. Seperti, insentif legislasi, berbagai tunjangan, uang operasional, sewa rumah, tunjangan listrik dan telpon, sampai gaji ke-13.

Dalam kaitan kasus di atas dan berbagai kasus korupsi yang makin banyak terjadi, kejujuran, dan cara hidup sederhana Bung Hatta, mantan wakil presiden pertama RI, perlu menjadi contoh, terutama komitmennya terhadap rakyat kecil.

Dalam buku Mengenang Bung Hatta, I Wangsa Widjaya yang selama puluhan tahun menjadi pembantu dan sekretaris Bung Hatta, menulis, Bung Hatta selalu mengembalikan kelebihan uang negara yang diberikan sebagai anggarannya.

Ada kisah menarik ketika pada 1970 setelah ia tidak lagi menjadi Wapres saat ia diundang berkunjung ke Irian Jaya (Papua), untuk sekaligus meninjau tempat ia pernah dibuang pada masa kolonial Belanda. Bung Hatta dengan tegas menolak ketika disodori amplop sebagai uang saku setelah ia dan rombongan tiba di Papua.

Ketika amplop itu disodorkan kepadanya, ia dengan spontan bertanya, ''Surat apa ini?'' Dijawab oleh Sumarno yang mengatur kunjungannya, ''Bukan surat, Bung. Uang... uang saku untuk perjalanan Bung Hatta di sini.'' ''Uang apa lagi? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah? Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah harus bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti uang apa lagi ini?''

''Lho, Bung... ini uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombonga.'' Sumarno coba meyakinkan Bung Hatta. ''Tidak, itu uang rakyat. Saya tidak mau terima. Kembalikan,'' kata Bung Hatta menolak amplop yang disodorkan kepadanya.
Rupanya Sumarno ingin meyakinkan Bung Hatta bahwa dia dan semua rombongan ke Irian dianggap sebagai pejabat dan menurut kebiasaan diberikan anggaran perjalanan, termasuk uang saku. Tidak mungkin dikembalikan lagi. Setelah terdiam sebentar Bung Hatta berkata, ''Maaf, Saudara, saya tidak mau menerima uang itu. Sekali lagi saya tegaskan, bagaimanapun itu uang rakyat, harus dikembalikan pada rakyat.''

Kemudian ketika mengunjungi Tanah Merah tempat ia diasingkan, setelah memberikan wejangan kepada masyarakat Digbul, ia memanggil Sumarno. ''Amplop yang berisi uang tempo hari apa masih Saudara simpan?'' tanya Bung Hatta. Dijawab, ''Masih Bung.'' Lalu, oleh Bung Hatta amplop dan seluruh isinya diserahkan kepada pemuka masyarakat di Digul. ''Ini uang berasal dari rakyat dan telah kembali ke tangan rakyat,'' tegas Bung Hatta.

Meskipun Bung Hatta dan Bung Karno sering berbeda pendapat, tapi hubungan keduanya cukup baik. Sebelum Bung Karno wafat, Bung Hatta dengan terlebih dulu menghubungi Sekretaris Militer Presiden, Letjen Tjokropranolo, meminta izin untuk menjenguk teman seperjuangannya yang sedang sakit keras itu. Bung Karno ketika itu tidak sadarkan diri. Tapi setelah siuman ia berkata dalam bahasa Belanda, ''Oh, Hatta, kau ada di sini. Kau juga Wangsa.''

''Saya melihat ini sebagai pertemuan antara dua orang sahabat yang cukup lama dipisahkan oleh suatu tirai yang tak tampak. Walau tak berarti keduanya memutuskan persahabatan. Hatta sangat sedih melihat keadaan Bung Karno yang pernah sama-sama berjuang selama puluhan tahun,'' kata Wangsa Widjaya.

Sebelum wafat pada 14 Maret 1980, Bung Hatta membuat surat wasiat kepada Guntur, putra tertua Bung Karno, dengan menyatakan bahwa Bung Karno-lah penggali Pancasila yang tertuang dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Karena, sebelumnya ada pendapat bukan Bung Karno pencetus Pancasila.

Bung Hatta terkenal sebagai orang yang baik dalam hubungannya dengan orang lain, termasuk dengan lawan politiknya. Ketika Alimin, tokoh tua PKI, menderita sakit keras di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Bung Hatta meluangkan waktu untuk menjenguknya. ''Oh, Bung Hatta datang,'' sapa Alimin lemah.

Keluarganya mengatakan, ''Alimin sudah kembali pada ajaran Islam yang dipeluknya sebelum memeluk ideologi komunis!''. PKI sangat membenci Bung Hatta. Pada 1960-an, patung Bung Hatta di GKBI sebagai Bapak Koperasi telah dicopot CGMI -- organiasi mahasiswa PKI.
Kejujuran dan komitmen Bung Hatta sebagai pemimpin yang membela rakyat kecil, menurut Wangsa Widjaya, karena ia seorang Muslim yang taat.

Ia tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa. Biasanya beliau shalat Jumat di Masjid Matraman yang tidak jauh dari kediamannya di Jl Diponegoro, Jakarta Pusat.

Bahkan, dalam perjalanan-perjalanan ke luar negeri, Bung Hatta tidak pernah meninggalkan shalat. Begitu taatnya menjalankan perintah agama, tidak heran selama memegang jabatan Wapres, menurur Wangsa, Bung Hatta tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi, menumpuk kekayaa, atau memberi fasilitas kepada keluarga dan sahabatnya.

Ketika Bung Hatta hendak melakukan ibadah haji bersama istri dan dua saudarinya, Bung Karno menawarkan agar menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung negara. Tapi Bung Hatta menolaknya, karena ia ingin pergi haji sebagai rakyat biasa, bukan sebagai wakil presiden. Dia menunaikan rukun Islam kelima dari hasil honorarium penerbitan beberapa bukunya.

*sumber Republika