Monday, February 18, 2008

Kopi di Indonesia


Sengaja saya memilih judul diatas untuk memberi istilah pada kegiatan atau aktivitas terselubung dibalik layar warkop (warung kopi, bukan warkopnya Dono Kasino Indro lho..) dengan berbagai istilah keren dan modern sekarang ini. Banyak sekali yang menginspirasi saya kenapa saya musti nulis hal ini, Pertama karena kopi dari doeloe menjadi tradisi pengikat komunitas sama halnya dengan budaya ”ngeteh bareng”. Kedua, kemanapun saya singgah selalu saya dihadapkan pada komunitas sosial yang juga suka ngopi. Ketiga, ternyata warung kopi (dengan banyak varian namanya) juga menyuguhkan kegiatan dibalik layar yang tidak banyak orang tau..!!

Saya bukannya sok tau, cuman ini hasil dari analisa kecil-kecilan dari otak saya yang pasti sangat terbatas memahami aktivitas dibalik layar ini…

Saya mencoba mengklasifikasikan kegiatan “ngopi” ini dalam perspektif geographic, maksudnya saya kelompokkan berdasar tempat gitu.. sebagai sample saya cuman mengambil empat sample analisis (halah.. kayak penelitian professional aja ya..) yakni : Bali, Jogjakarta, Jakarta dan Banda Aceh.

Saya pikir keempat kota tersebut cukup untuk mengambil perbandingan. Oke kita mulai pretheli satu-satu :

Bali
Banyak alasan kenapa orang ke Bali, sebagai pulau Dewata, Pariwisata, pulau Bule, pulau Bebas Maksiat, pulau Berekspresi, pulau Pantai, pulau Belanja, dll-dll...

Di Bali, banyak warung kopi yang tersedia di jalan-jalan.. terutama di jalan Legian-Kuta. Tidak hanya warung kopi, tapi juga warung minuman keras plus suguhan music yang hingar bingar. Jangan heran kalo kita jalan-jalan di sekitaran Jl. Kuta-Legian gak ada bedanya malam ama siang. Justru semakin malam akan semakin banyak kita liat orang berjejal entah laki-laki ato perempuan dengan bau badan menyengat pada minum kopi (tentunya varian kopi bule seperti espresso, capuccino, dll. bukannya kopi tubruk ato kopi Aceh. ha..ha..) dan minum alkohol ampe maboxxx n berjoged dansa seperti orang gila...!!

Warung Kopi di Bali lebih banyak menyatu dengan diskotik di jalan-jalan menawarkan kebebasan tanpa aturan, perbincangan yang terjadi lebih banyak pake bahasa asing macam bahasa inggris, belanda, australia, jerman, dll. Warung kopi macam Starbuck ternyata kurang diminati di Bali.

Jogjakarta
Kota ini menjadi banyak rujukan bagi banyak orang mulai dari pendidikan, wisata, kuliner sampai kegiatan mistis yang kadang irasional. Semuanya ada..!! Jogja emang menyuguhkan semua karakteristik nusantara. Plus minus ada semua di Jogja..

Kalo menyangkut ngopi, Jogja mulai dikenal dengan aktivitas ngopinya pada awal tahun 1997-an. Sampai sekarang kegiatan ngopi ini banyak menjadi ”menu khusus” para pelancong (maksudnya mahasiswa, bukan bule kayak di Bali) pada waktu malam hari.
Kalo dulu banyak menjamur warung kopi di sederetan selokan mataram, sekarang ni mulai berjamur warung kopi di tengah-tengah kota.

Dengan suguhan serba baru dan menu serba lengkap (kayak mo nyamain starbuck aja, bahkan lebih..). mulai disediakan layar lebar plus suguhan acara TV ala indovision, tempat serba luas, lampu sedikit remang-remang dan fasilitas ala mahasiswa dengan hotspot gratisnya. Warung kopi aja bernuansa akademis.. ini cuman ada di Jogja.

Saya baru liat ada sekelompok anak rame-rame ngopi yang dibawa laptop, buat searching bahan kuliah, browsing, dll tu cuma ada di Jogja. Gak ada musik yang hingar bingar, gak ada bau alkohol, gak ada bau keringat menyengat. Yang ada justru nuansa kebersamaan dan tentunya akademis dan intelektual.

Jakarta
Sebagai ibukota NKRI, Jakarta tentu menjadi kota terbesar di Indonesia, walaupun faktanya Jakarta sebenarnya tidak pantas menyandang gelar tersebut. Dengan banyaknya sampah dimana-mana, banjir yang hampir tiap tahun selalu datang, kawasan kumuh hampir disetiap bantaran kali, gelandangan dan pengemis yang ada disetiap jengkal jalanan ibu kota, dll-dll-dll. Bahkan saya aja gak sanggup nulis satu persatu persoalan kronis yang dihadapi Jakarta.
Jakarta sebenarnya kota yang tidak imbang, waktu sebagian orangnya dihabiskan di jalan raya karena macet, dirumah cuman tidur. Ketidakseimbangan inilah yang menyebabkan banyaknya kehidupan malam di Jakarta...!! mulai dari seminar malam hari sampai dengan ngopi malam hari..!!!

Warung kopi yang disuguhkan di Jakarta lebih modern, dengan merk toko sekelas starbuck dan kroni-kroninya Jakarta menyuguhkan warung kopi eksekutif. Kebanyakan yang datang adalah orang-orang kantoran yang melepas penat dari kantor, jangan heran kalo sekali ngopi di tempat itu bisa abis 100ribu belum kalo kita ngajak temen jadi bisa abis 500rb cuman sekali duduk.


Bukan mahalnya yang coba saya ulas, cuman di Jakarta ini menjadi keprihatinan tersendiri karena ternyata menjadi ajang anak-ana ABG buat jualan diri juga, liat aja pasti banyak anak-anak sekelas SMA atau kuliah semesteran awal jalan ama om-om.., ngerokok dengan fasihnya, pegangan tangan, dan suguhan najis lain dipertontonkan tanpa malu.

Bukan itu saja, bahkan ada juga komunitas gay yang berkumpul di tempat ngopi. (gilaa.. waktu saya tau info ini dari temen kost, saya jadi maleesss banget pergi ngopi..!!!)

Gak ada nuansa akademisnya ngopi di Jakarta, justru kita hanya disuguhi suara bising knalpot bajaj dan klakson mikrolet dan bus

Banda Aceh
Sebagai kota yang didera konflik hampir selama 50tahun lebih, Banda Aceh tentunya menyimpan mitos di balik hobby hampir 99% warganya ngopi (laki-lakinya lho..) kebiasaan ngopi ini karena banyak hal : ketiadaan tempat hiburan, gak ada mall, gak ada bioskop dan gak ada taman kota. Hal ini menyebabkan warga Aceh mencari kegiatan balasan dengan kumpul di warung kopi.

Orang Aceh ngopi bisa 2-3 kali sehari. Yakni pukul pagi sekitar jam 08.00, kemudian siang sekitar jam 13.00 dan malem hari sekitar jam 21.00 WIB.

Warung kopi di Aceh juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat biasa sampai pejabat sekelas gubernur atau pangdam tidak segan-segan ngopi bareng dengan warganya. Gak ada yang aneh dengan itu, beberapa kali saya mengunjungi warung kopi di Banda Aceh, sering kali saya bertemu dengan Gubernur, Wakil Gubernur, Anggota DPRD, Pengusaha, Aktivis, pekerja LSM dan NGO, dll.

Warung kopi di Aceh menjadi satu-satunya tempat berkumpul rakyat (dengan catatan hampir tidak ada cewek Aceh ngopi) jangan heran kalau justru diwarung kopilah banyak strategi pemerintahan, strategi ekonomi dan politik mulai dibahas dan disimpulkan. Bahkan ketika masa konflik, di warung kopi jugalah strategi perlawanan GAM banyak dibicarakan.

Di Aceh, kita akan banyak melihat pengusaha bicara tender proyek, politisi bicara pemilu dan aktivis LSM bicara korupsi justru di warung kopi...!!!

Itulah.. perbandingan kegiatan ngopi dan kegiatan di balik layarnya..!! sebuah tulisan yang mungkin tidak berarti. Sekedar menjawab banyak usul teman untuk saya menambah lagi tulisan di blog ini.. :-)