Tuesday, May 13, 2008

Bertahankah SBY sampai 2009

Masih ingat kejadian Mei 1998 atau tepatnya 10 tahun yang lalu itu..?? Jogja rusuh, sepanjang jalan Gejayan dan beberapa ruas jalan lain di Jogjakarta terlihat aksi bakar-bakar, pecah kaca, sampai aksi penjarahan barang-barang dagangan pemilik toko di kawasan itu. Aksi seperti ini tidak hanya di jogja, Medan adalah kota pertama yang rusuh karena dipicu kenaikan harga BBM pada bulan itu. Bahkan kenaikan BBM waktu itu adalah kenaikan dengan prosentase terbesar (1993 harga premium Rp.700 dan langsung naik pada tahun 1998 sebesar Rp.1200) Sebenarnya kenaikan harga BBM ini menjadi pemicu tombol terakhir dari sekian banyak tombol kekecewaan terhadap kepemimpinan nasional dibawah Soeharto. Akhirnya Soeharto jatuh...


BJ. Habibie sebagai pengganti dinasti Soeharto juga bersikap sama. Penghapusan subsidi berbagai barang kebutuhan pokok, termasuk BBM, mulai diterapkan sejak era Presiden Baharuddin Jusuf Habibie. Hal ini menyusul kesepakatan Pemerintan Indonesia dengan lembaga moneter internasional, IMF.

Kenaikan pertama mulai dirasakan di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000. Harga BBM saat itu naik. Kenaikan misalnya terjadi pada premium (naik 15 persen) dan minyak tanah (25 persen). Masih di era Gus Dur, pada 2001, Harga BBM naik lagi. Premium naik sebesar 26 persen, sedangkan minyak tanah naik 14,3 persen.

Presiden Megawati Soekarnoputri pun tak punya jalan lain. Pada 2002, ia juga menaikkan Harga BBM. Premium dinaikkan sebesar tujuh persen, sedangkan minyak tanah naik 50 persen. Lima bulan kemudian, harga premium naik lagi sebesar 9,4 persen. Masih pada era Mega (2003), harga premium naik lagi sebesar 16,7 persen dan minyak tanah minyak tanah naik 3,4 persen. (sumber Tribun Makasar)

Soeharto, Habibie, Gusdur dan Megawati sama-sama terjebak pada skema penyelamatan APBN dengan mencabut subsidi BBM yang berarti menaikkan harga BBM dan juga berarti menaikkan harga kebutuhan pokok. Kebijakan tidak populer ini menjadi bom bunuh diri yang tidak hanya membunuh karir politik mereka, tapi membunuh rakyat Indonesia.

Mei 2008, harga minyak dunia melejit naik mencapai USD 120 per barel. SBY kebingungan untuk menyelamatkan APBN, ternyata Indonesia yang mengaku menjadi negara yang mengeksport minyak (yang seharusnya diuntungkan dengan harga minyak dunia yang naik) ketahuan lebih banyak mengimport daripada mengeksport.


SBY bingung dan kembali melakukan kesalahan yang sama 4 presiden sebelumnya. Menaikkan harga BBM untuk mengurangi beban APBN. Entah apa karena presiden dikelilingi oleh pakar ekonomi yang sama? Atau karena memang sudah tidak ada lagi pakar yang bisa memberikan solusi ampuh dan populer..?? SBY memang tinggal setahun lagi, kalau SBY selamat sampai 2009, maka ini adalah untuk kali pertama seorang presiden Indonesia naik dan turun dengan cara yang normal.