Wednesday, May 28, 2008

Ternodainya Gerakan Mahasiswa


Selasa malam, 27 Mei 2008 seorang polisi dari polsek Kebayoran Baru Iptu Henryco Manurung yang sudah berumur 55 tahun dan sedang mengatur lalu lintas di depan kampus Moestopo Beragama Jakarta, dianiaya oleh mahasiswa. Mahasiswa menendang dan menginjak-injak sang polisi tua itu. (begitu rata-rata media massa baik cetak maupun elektronik memberitakan)

Beberapa hari sebelumnya, 23 Mei 2008, di kampus UNAS gerombolan polisi melakukan hal yang sama, masuk kampus dengan membabi buta, menangkap 100-an mahasiswa, menendang, menginjak, merusak mobil, sepeda motor, dan fasilitas kampus lain.

Apapun alasannya, jika memang benar mahasiswa melakukan penganiayaan maka tindakan sekelompok mahasiswa itu tidak bisa dibenarkan, begitu juga tindakan segerombolan polisi di UNAS yang lebih mirip dengan aksi FPI di lokalisasi.

Gerakan moral mahasiswa menentang kenaikan harga BBM justru ternodai dengan cara-cara yang kurang manusiawi seperti itu, masyarakat bisa kehilangan simpati dengan aksi mahasiswa yang hampir berubah anarkis. Kalau masyarakat kehilangan simpati kepada polisi itu tidak perlu dikhawatirkan karena sejak dulu perilaku sebagian besar polisi memang tidak pernah menuai simpati.

Devide et impera
Politik pecah belah yang dilakukan terhadap gerakan mahasiswa cukup berhasil. Salah satu contoh yang tampak adalah meredanya aksi mahasiwa memprotes kenaikan harga BBM dan justru berubah menjadi aksi yang tidak menuai simpati masyarakat.

Aksi pemblokiran jalan siang-malam yang menyebabkan kemacetan jalan di Jakarta tidak akan menuai simpati masyarakat pengguna jalan, mereka dirugikan karena agenda-agenda rutin dan agenda bisnis bisa kacau balau. Belum lagi aksi tawuran antar mahasiswa YAI dan mahasiswa UKI yang justru terjadi di tengah hangar-bingar gerakan mahasiswa menuntut pembatalan kenaikan harga BBM.

Yang paling mencengangkan adalah penganiayaan terhadap Iptu Henryco Manurung yang sedang melintas di depan kampus Moestopo Beriman tersebut. Polisi tua itu terlihat dalam rekaman kamera dan gambar TV di tending kepalanya oleh orang berbadan tegap, kepala plontos dan sudah punya umur, dilihat dari perawakannya semua orang akan setuju mengatakan bahwa orang itu bukanlah mahasiswa. Perawakan orang itu lebih mirip intel polisi yang sering disusupkan di tengah aksi mahasiswa (pakai tas cangklog).

Konspirasi Media dan Penguasa
Namun nampaknya tidak ada media yang memberikan informasi dengan jelas. Media cetak dan elektronik semua tegas mengatakan bahwa ”mahasiswa melakukan penganiayaan”. Nampaknya penguasa di negeri ini punya solusi jitu untuk meredam aksi mahasiwa dengan melakukan politik pecah belah dan menghilangkan simpati masyarakat.
Bukan hanya itu, media akhir-akhir ini malah sibuk memberitakan kenaikan BBM di negara-negara lain sebagai hal yang wajar. Salah satu cara meminta pengertian masyarakat bahwa apa yang dilakukan pemerintah adalah hal yang jamak.

Tak taulah, apa nasib bangsa ini kalau media massa pun sudah menukar profesionalitas dengan segepok uang dan kemudahan-kemudahan lain.

Oiya, satu lagi. Saya yakin orang yang menganiaya polisi lalu lintas itu tidak akan ditemukan polisi. Bukan karena polisi tidak bisa menemukan orangnya yang sudah jelas wajahnya itu, akan tetapi karena sesungguhnya dia adalah dari korp yang sama dan sudah disiapkan sebelumnya.