Wednesday, September 3, 2008

Densus 88

Jumat malam kemarin (29 Agustus 2008) aku pulang ke Jogja dari Jakarta naik Senja Utama Yk. Kebetulan aku duduk dekat dengan seorang “anggota” entah TNI atau Polri karena badannya yang tegap dan tergantung pistol jenis FN dipinggangnya.

Setelah sedikit ngobrol, ternyata umurnya sama dengan aku. Sebut saja namaya Anton. Anton lulusan SMU tahun 2000 di Makassar dan sudah 8 tahun jadi anggota Polri. Sebelumnya di kesatuan Brimob dan sekarang sudah 4 tahun bergabung dengan Densus Anti Teror 88. Aku percaya Anton anggota Densus 88 karena cara bicara yang runtut dan masuk akal selain itu menurutku Anton memang banyak tahu tentang Densus 88.  

Alasan kenapa Anton pengin jadi Polisi ternyata karena awalnya pengin balas dendam, waktu SMU Anton pernah masuk sel gara-gara berkelahi dengan anak polisi, makanya setelah Anton jadi polisi hal pertama yang Anton lakukan adalah menghajar (lagi) anak polisi itu.. asyik kaan..:( Orang lain mungkin melihat wah ke anggota Densus 88 karena selain kelompok elite juga seringkali dikaitkan dengan aktifitas terorisme yang memang lagi menyita perhatian kita semua. Tapi, Anton merasa kehidupannya tidak normal. Berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain dalam hitungan jam, tanpa batasan jam kerja dan harus selalu siap ketika dibutuhkan. 

Sebagai seorang pemuda, Anton merasa masa mudanya sudah hilang.. tidak pernah bisa berkumpul bersama keluarga, 4 tahun jadi anggota Densus tidak pernah bertemu keluarga bahkan pada hari raya iedul fitri sekalipun. Tidak punya temen cewek, apalagi pacaran. SMS yang diterima lebih sering perintah dan tugas dari atasan bukan SMS mesra dari lawan jenis seperti anda mungkin..? Sebagai seorang pemuda tugasnya tergolong berat. Sebelum tugas selalu menandatangani surat wasiat dan surat keterangan tentang kecacatan atau kematian. 

Anton pernah bertugas di Aceh, Palu, Ambon, Bali, Sampit dan juga terlibat dalam penangkapan anggota kelompok Dr. Azahari dan Noordin M. Top di Batu, Malang. Anton juga bercerita bahwa disetiap tugas (apalagi tugas penyamaran) di daerah Anton selalu mengantongi nama dan identitas baru yang semuanya sudah disipakan oleh atasan. Makanya nama, alamat, agama, pekerjaan dan tanggal lahir selalu berbeda tergantung kebutuhan. 

Anton pernah menyamar jadi tukang jualan sandal keliling, pedagang pasar dan tukang kredit yang semua “modal kerja” nya sudah disiapkan (pakai dana APBN pasti ya...). Padahal gajinya tidak terlalu besar. Take home pay gajinya cuma 2,9 juta rupiah. Makanya kadang Anton berpikir pengin jadi Polantas saja, gajinya sama, ada jam kerja, bisa mengenal cewek, pacaran, dan tentunya bisa pulang ke rumah sama dengan orang pada umumnya. 

Aku baru tahu ternyata anggota Densus 88 tidak pernah apel pagi, rapat mereka lebih sering dengan telepon atau SMS dan hanya kumpul tiap hari Jumat untuk menyusun laporan ke Mabes Polri (bukan ke Polres atau Polda). Ini karena mereka memang lebih sering berada dilapangan daripada duduk di belakang meja. 

Anggota Densus 88 sehari-hari tidak boleh pakai sepatu standar Polri karena menyebabkan mata kaki jadi hitam, potongan rambut juga biasa tidak terlalu cepak karena mengganggu tugas penyamaran, dan juga tidak memakai seragam ketat dan lengan dilipat karena itu adalah ciri khas “anggota”. 

Semua ini untuk keamanan dan kelancaran tugas penyamaran apalagi tugas spionase. Ketika aku tanya kenapa namanya Densus 88, Anton menjawab ternyata angka 88 diambil dari Jumlah korban warga australia yang berjumlah 88 Orang. 

Ketika aku tanya kenapa Australia? Apakah karena Australia termasuk negara yang menggelontorkan dana bagi polri dalam operasi anti terorisme? Anton menjawab: YA..!! Kalau mau jujur memang operasi anti terorisme di Indonesia selama ini banyak mendapat bantuan Australia dan Amerika.

Anton, masih pengin jadi Anggota Densus 88 atau pengin beralih jadi Polantas aja..? lumayan lho jadi Polantas. Sekali tiup peluit 50-100 ribu bisa dikantongi. Kalau sehari tiup peluit 5x aja, sebulan berarti 15juta dikantong... itu setara 5 bulan gaji kamu Ton..!! hehehe..