Wednesday, November 12, 2008

PKS dan Politik Klaimisasi

“PKS lupa dia besar dari gerakan anti korupsi, tapi sekarang justru mengusung tokoh korup sebagai pahlawan dan panutan“

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sepertinya terus bergerak, berinovasi, dan terus-menerus melakukan gebrakan guna kembali mengangkat citra partai menjelang pemilu 2009. Seperti sebagian partai-partai yang lain, PKS juga sedang sibuk-sibuknya bekerja untuk mengeruk suara sebanyak-banyaknya dari golongan manapun dan ideologi apapun.

Sejatinya partai adalah ideologi, partai adalah tempat menumpahkan segala gagasan dan pemikiran yang sejalan, partai adalah tempat kita membesarkan pemikiran, partai adalah sudut pandang dimana kita ingin membangun bangsa ini sekarang dan yang akan datang. Itulah mengapa dalam setiap AD/ART partai selalu tersebutkan Landasan Ideologi/Asas sebagai titik tolak sebuah partai berdiri.

Berbeda dengan partai lain yang mengandalkan basis massa dari organisasi induk seperti PKB mengandalkan basis massa NU, PAN dengan Muhammadiyah, PBB dengan eks Masyumi, PDS dengan Umat nasrani, PDIP dengan eks PNI dan Golkar dengan mantan pengikut Orba, PKS (diawal kemunculannya bernama PK) walaupun diawal mendeklarasikan diri sebagai partai Islam dan dipenuhi kaum berjenggot lama kelamaan mulai membuka diri sebagai partai pluralis. PKS dengan gaungnya sebagai “partai bersih” mulai melakukan pendekatan pada semua golongan, semua agama, dan semua ideologi.

Menjelang pemilu 2009, PKS membuat iklan televisi yang aneh. Aneh karena saat ini PKS tidak lagi bicara program seperti pemilu sebelumnya, aneh karena PKS tidak sedang membicarakan keberhasilan program partai di legislatif maupun eksekutif, aneh karena PKS juga tidak mensosialisasikan kader terbaiknya. PKS justru “menjual” tokoh-tokoh yang selama ini menjadi panutan ideologi. Sebut saja KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan Soekarno (Pendiri PNI) bahkan Soeharto (Mantan Penguasa Orba) yang dimunculkan “seolah-olah” sebagai peletak dasar ideologi PKS, atau setidaknya PKS menempatkan diri sebagai penerus perjuangan mereka... terakhir PKS justru mengusulkan agar Soeharto diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

PKS lupa bahwa PKB saja tidak setega itu menggunakan KH. Hasyim Asy’ari sebagai jualan politik, PAN juga tidak pernah menempatkan KH. Ahmad Dahlan sebagai produk jualan. Dan Soeharto?? Dia adalah jualan PKPB yang tidak laku dipemilu 2004, PKS membuat kemasan baru dan ingin menjualnya lagi.

PKS lupa bahwa dia besar karena orang tertarik dengan kesigapan partai ketika bencana datang, atau sedikitnya anggota PKS yang terkenan kasus korupsi, dia juga besar karena menggalang kekuatan dari kampus-kampus dan kelompok-kelompok pengajian di desa-desa.

Sejatinya partai adalah ideologi, dia tempat kita menumbuhkan keyakinan politik kita. Partai bukan sekedar mesin pengeruk suara, partai bukan juga penjilat kaki-kaki perusak dan penggerogot negara, partai bukan tempat kita menjual tokoh bangsa untuk kepentingan golongan, bukan juga tempat mendewakan penjahat koruptor untuk mengeruk suara tambahan.