Thursday, October 7, 2010

Indonesia Vs Eropa

Saya ingin berbagi cerita perjalanan saya ke Eropa beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 3 – 17 Juli 2010. Saya kebetulan mengikuti summer course tentang Pro Poor Integrity yang diselenggarakan atas kerjasama Central European University dengan Tiri-Making Integrity work, sebuah lembaga yang berbasis di London.

Sebenarnya ada beberapa tema yang bisa diambil dalam short course ini selain Pro Poor Integrity, yakni Leadership dan Election, saya lebih tertarik dengan isu pro poor dan integrity karena menurut saya inilah pangkal kesengsaraan yang ada di Indonesia selain tentu karena isu ini yang cukup relevan dengan bidang yang sekarang sedang saya geluti.

Short course ini diselenggarakan di kampus CEU Budapest, Hungary (Nador ucta. 11, 5th district) sehingga memang sebagian besar waktu saya habiskan di kampus ini dari tanggal 5 – 14 July 2010 mulai pukul 9:00am – 5:00pm setiap harinya. Selama kursus ini saya mendapatkan banyak pencerahan dari pengalaman negara-negara lain dalam usaha dan kendala yang mereka hadapi untuk pengentasan kemiskinan dan isu korupsi. Setidaknya saya mendapatkan pengalaman dari Kirgistan, Kongo, Palestina , India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur, Timor Leste, dsb.

Selain itu, kita juga dihadirkan narasumber yang cukup kompeten seperti Fredrik Galtung, Abdul Tejan – Cole, Hadeel Qazzaz, Kevin Evans, Vaira Vike – Freiberga dan satu-satunya narasumber dari Indonesia adalah Prof. Ramlan Surbakti dikelas election, tapi sayang saya tidak mengikuti kelas ini.

Selain di Budapest (Hungary), pada hari libur kursus saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Praga (Pargue/Praha/Prag) ibu kota dari Checz Republik dan setelah kursus saya menyempatan berkunjung ke Vienna ibu kota Austria, Bratislava ibu kota Slovakia, dan singgah sebentar di Frankfurt Jerman.

Di depan gedung parlemen republik ceko
Selama berada di sana, saya cukup banyak mengamati kehidupan politik, sosial, maupun budaya yang ada di negara-negara tersebut dan sungguh mengagumkan ternyata kota-kota yang ketika saya datangi sangat panas itu (bulan juli adalah summer) ternyata memberikan pelajaran bagi saya yang bisa jadi itulah beberapa alasan kenapa mereka relatif lebih maju dibanding bangsa-bangsa di Asia.

Disiplin. Kata ini mudah sekali diucapkan, tapi sangat sulit di praktekkan di negara kita. Masyarakat eropa sangat disiplin dalam banyak hal. Misal dalam berlalu lintas, saya tidak pernah melihat orang menyeberang jalan tidak pada zebra cross dan saya tidak pernah melihat mobil/motor melanggar lampu merah meskipun di jalan/gang kecil yang sangat sepi sekalipun karena mereka tahu ada peraturan yang harus mereka taati. Bahkan saya hampir tidak pernah mendengar klakson dibunyikan saking tertibnya. Disiplin ini juga terlihat di kampus, kampus sudah rame pagi-pagi, sepertinya jarang sekali ada mahasiswa atau dosen terlambat kuliah. Untuk urusan antri, mereka terbiasa antri dimana-mana entah di cafe, di stasiun, di halte bis, dll. Bandingkan dengan bangsa kita??

Sebenarnya disiplin inilah yang membentuk mereka menjadi bangsa yang unggul, dari disiplin inilah mereka bisa menciptakan lingkungan yang bersih, produktifitas kerja yang maksimal, kehidupan beragama yang rukun, stabilitas politik dan keamanan dan tentunya pariwisata yang bergairah, walupun saya masih bisa melihat 1-2 tuna wisma yang tidur di emperan toko pinggir jalan atau pengemis yang mondar-mandir di tengah kota.

Kota-kota diatas hampir mempunyai peninggalan arsitektur yang serupa, kalau teman-teman tahu kisah sleeping beauty atau cerita rakyat tentang seorang putri yang tertidur dan diselamatkan seorang pangeran, maka bangunan menara kerajaantersebut berada di tengah kota Budapest dan memang hampir seluruh bangunan di eropa timur mempunyai arsitektur kuno seperti ini.

Katedral juga menjadi daya tarik yang sangat tinggi di sana, hampir semua katedral besar menjadi tempat wisata. Kita bisa dengan gratis masuk ke katedral dan melihat hebatnya arsitektur dan seni lukis pada masa lalu, kita bisa juga lihat sinagog atau tempat sembahyang umat yahudi yang terlihat sangat mistis (beda dengan katedral yang megah) tapi memang selama saya disana, tidak ada satupun masjid yang saya lihat. Saya pernah bertanyaletak masjid yang terdekat, tapi ternyata tempatnya lumayan jauh di kaki bukit.. :(

Orang-orang eropa timur dan tengah ini terkenal dengan kebiasaan mereka merokok, sampai-sampai di tempat sampah di setiap sudut kota selalu ada bagian khusus di tempat sampah itu yang digunakan untuk mematikan dan membuang putung rokok. Tapi tentu mereka masih kalah dengan kebiasaan orang Indonesia merokok yang bisa habis 3 bungkus setiap harinya. Hal ini dikarenakan harga rokok kita yang kebangetan murahnya..! ketika saya cerita bahwa rokok di Indonesia hanya 1 USD tiap bungkusnya, mereka kaget dan berkata: “oohh Indonesia is a heaven for smokers” , “yeaah that’s true” kataku. Tapi coba lihat dimana ada tempat sampah di negara kita ini yang memberikan fasilitas untuk pembuangan putung rokok? Maka tak heran kalau kita lihat putung rokok itu ada dimana-mana..!!!

Transportasi di kota-kota itu sungguh mengagumkan, kita bisa naik ke semua transportasi publik (bus, tram, dan subway) dengan hanya satu jenis tiket, dan semua transportasi publik ini berhenti hanya pada halte-halte dimana dia harus berhenti. Nampaknya transportasi disana disediakan oleh badan seperti BUMN dan terintegrasi antar sarana yang lain. Bandingkan dengan situasi di Jakarta misalnya, jumlah bus mungkin ada ratusan tapi tidak terintegrasi satu dengan yang lainnya karena memang dibisniskan secara terlampau terbuka sehingga susah diatur dan coba lihat kelakuan mereka di jalan raya.. ckckck seperti membandingkan antara langit dengan bumi. 
Chain Bridge; penghubung antara Buda dan Pest di Hungary
Jalan Raya disana juga memiliki jalur khusus untuk sepeda yang disediakan secara terpisah dengan jalan raya. Jalan khusus untuk sepeda ini ada disamping trotoar/pedestrian dan ada sepanjang jalan tersebut. Semua jalan raya memang memiliki pedestrian yang lumayan lebar sehingga sangat nyaman dipakai untuk berjalan kaki dan tidak ada pedagang disitu karena hampir semua pedagang berkumpul di pasar yang sangat luas.

Untuk urusan seni-budaya, kota-kota ini terkenal sangat menghargai seni dan pertunjukan. hampir setiap bangunan menjadi daya tarik pariwisata karena arsitektur dan keindahannya. Mulai dari gedung parlemen, jembatan, katedral, sungai, dll menjadi daya tarik wisata dan pertunjukan kesenian yang indah. Waktu saya jalan-jalan ke Chain Bridge (jembatan yang menghubungkan Buda dan Pest di Hungary) waktu itu sedang ada pertunjukan musik dari Timur Tengah dan Amerika Latin yang dibiayai oleh Pemerintah Kota setempat. Saya sempat tersenyum ketika penyanyi dari Timur Tengah itu bernyayi “Laa Ilaaha Illallah” dan orang-orang eropa itu ikut menirukannya berkali-kali, mereka tidak tahu kalau artinya “tiadaTuhan selain Allah”. Mereka hanya peduli bahwa musiknya enak didengar dan ditirukan. (continue)