Thursday, January 20, 2011

Perempuan Sulit Jadi Calon Tanpa Relasi


Jakarta (ANTARA) - Pengurus DPP Partai Amanat Nasional, Andi Yuliani Paris, mengatakan, perempuan sulit maju dalam pilkada sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah, apabila tidak memiliki relasi politik yang melibatkan keluarga sebagai pengurus partai.

"Faktanya tanpa relasi ini sulit bagi calon perempuan untuk maju dalam pilkada. Kalau dia (perempuan) bukan bagian dari struktur partai atau berkorelasi maka akan sulit," katanya di Jakarta, Selasa.

Kondisi ini sangat disayangkan, tetapi fakta di lapangan menunjukkan sebagian calon kepala daerah perempuan memiliki akses untuk maju karena adanya keluarga yang merupakan politisi partai atau memiliki posisi penting di partai, jelasnya.

"Sosial kapital adalah modal awal bagi perempuan untuk dapat mencalonkan diri," kata mantan anggota Komisi II DPR RI itu.

Hasil kajian yang dilakukan Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga bersama dengan Kemitraan dan Kemitraan Australia Indonesia tentang kandidasi perempuan di Jawa Timur dan Sulawesi Utara, menunjukkan sejumlah calon perempuan maju dalam pilkada karena memiliki hubungan dengan pengurus partai.

Ketua Peneliti dari Departemen Ilmu Politik FISIP Unair, Dwi Windyastuti dalam paparannya menjelaskan akses perempuan di arena pencalonan melalui terobosan keluarga sebagai pengurus partai, memang cara yang memungkinkan munculnya calon perempuan dalam pilkada.

Melalui cara ini, perempuan mampu menembus kekuatan parpol yang umumnya didominasi oleh kaum lelaki, jelasnya. Selain itu, seorang perempuan mau mencalonkan diri dalam pilkada, baik sebagai calon kepala daerah maupun wakil kepala daerah, dipengaruhi banyak faktor di antaranya adalah dorongan keluarga dan upaya untuk melanggengkan kekuasaan keluarga.

Beberapa kandidat kepala daerah perempuan pada mulanya tidak memiliki niat untuk mengikuti pilkada, tetapi karena adanya dorongan dari keluarga atau orang terdekat menyebabkan kandidat akhirnya maju. Artinya, calon perempuan tersebut tidak merencanakan sendiri pencalonannya dan lebih didominasi oleh dorongan orang lain.

Selain itu, tampilnya perempuan yang berstatus istri atau anak pejabat di sejumlah pilkada menunjukkan bagaimana perempuan dijadikan instrumen politik untuk mempertahankan kekuasaan.

"Maraknya politik keluarga ini justru akan mereduksi proses demokratisasi di partai politik," kata Dwi.

http://id.news.yahoo.com/antr/20110118/tpl-andi-perempuan-sulit-jadi-calon-tanp-cc08abe.html